Kenapa partai = Party..?

October 9th, 2008 by husin-independent

Saya tertarik dengan tulisan easy dalam solwdown baby yang mengulas tingkah polah wakil rakyat terhormat yang bersikap seperti preman. Saya ingin membahasanya dari lembaga rekrutmen yang melahirkan wakil rakyat tersebut. ya..dialah partai politik, lembaga yang begitu sensual dalam sistem kenegaraan komtemporer.

Dalam bahasa Inggris partai itu disebut party. Yang bisa berarti kumpulan orang atau kelompok. Bisa juga berarti pesta. Mungkin arti yang saya sebut belakangan lebih cocok dengan realitas politik saat ini. Dimana partai-partai senang melakukan pesta korupsi, pesta kejahatan, pesta suap menyuap, pesta baku hantam, dan bahkan pesta seks. Kalau di Amerika cuma ada dua partai yakni republik, dan demokrat. di negeri ini kita mengenal partai benar dan partai gak benar
Bahkan orang yang apatis menganggap semua partai tidak benar. Semua bisa diperdebatkan. Seorang petinggi partai mungkin memandang Saya dengan sinis seraya melontarkan caci maki bahwa Saya mencoba mendelegitimasi peran partai sebagai lembaga rekrutment politik, dan agregasi aspirasi masyarakat. Justru yang saya lakukan merupakan bagian konstruktif untuk mengembalikan citra parpol yang sedemikian terpuruk sekaligus mekanisme kontrol penyelenggaraan sistem politik yang efektif.

Bukan sekali ini saja para wakil rakyat kita terlibat baku hantam, sebelumnya dua caleg sebuah partai islam terlibat baku hatam sebelum acara talk show di TV one. Inilah kultur premanisme yang terus melekat dan terbawa dalam lembaga yang begitu sexy dalam perpolitikan nasional. Pesta premanisme tak hanya tumbuh pada tatanan grass root tetapi juga mewabah di kalangan elite parpol yang telah duduk sebagai wakil rakyat. Tak heran kebijakan yang dihasilkan para “preman politik” jarang berpihak pada kepentingan rakyat. karena mereka justru melanggengkan pesta partisan untuk kemakmuran kelompoknya. Sangat berbahaya kalau lembaga legislatif kita dikuasai oleh para preman.

Oleh karena itu perbaikan sistem rekrutment pada parpol merupakan sebuah keniscayaan. Jika tidak, pemaknaan partai sebagi party adalah tak terbantahkan. Parpol hendaknya mendasarkan sistem rekrutmentnya pada calon yang memiliki personality yang baik, dan trade record yang bersih. Bukan sekedar vote getter dan punya uang banyak, apalagi modal tampang doang.

Kegiatan rekrutment kader parpol mungkin mirip kegiatan seorang calon mertua dalam menseleksi calon menantunya. mau pilih mana..? menantu yang tampangnya cakep, duitnya banyak tapi jiwanya preman atau calon menantu yang biasa aja tapi personality-nya baik.

Mudik dan Aspek2nya

September 20th, 2008 by husin-independent

Sebuah rutinas tahunan yang yang menghabiskan segenap energi dan pengorbanan tetapi tak membuat para pelakunya merasa surut apalagi jera. Mobilitas horisontal dari sebuah tempat yang disebut wilayah perkotaan ke tempat yang disebut desa atau kampung halaman. Mudik juga berarti eksodus sementara dari aktifitas pekerjaan, menyegarkan kembali pikiran pada hawa sejuk kampung halaman. Dalam kacamata Saya ada beberapa aspek turunan dari aktivitas yang disebut mudik ini :

1. Aspek Psikologis. Adanya kerinduan para pelaku terhadap suasana kampung halaman, bercengkrema dengan orang tua, keluarga, tentangga, teman2 semasa kecil, dan lingkungannya. Dapat juga digunakan sebagai ajang “unjuk gigi” seorang pemuda pada calon mertuanya di kampung (mudah2an giginya gak rontok ya..) Kegiatan uji kelayakan seorang menantu dihadapan mertuanya. Dengan membawa beberapa karung berisi uang, si calon menantu dengan penuh percaya diri berkata kepada calon mertuanya ” Saya ingin melamar Anak Ibu…”, Dengan muka merah merona Sang calon mertua merespon…” Saya panggilkan penghulu malam ini juga untuk kamu…”.

2. Aspek politik. Sebuah ajang untuk membentuk basis massa konstituen di daerah. “Pilih saya dari partai ****** dengan nomor urut *****, niscaya akan saya buat semua warga bahagia di dunia dan akhirat.” Sebuah janji manis yang sayangnya sering dilupakan ketika sang perantau kembali ke kota karena keburu diseret ke pengadilan tipikor..

3. Aspek hukum. Sebuah kesempatan bagi para koruptor untuk lari sejenak dari kejaran KPK. La wong KPK-nya juga mudik. Bukan begitu pak Antasari Azhar…! (sok deket banget nih gw)…mudah2an koruptornya satu kampung juga dengan petugas KPK…biar penangkapannya menjadi dramatis….

4. Aspek sosial. Menguatkan ikatan sosial para perantau untuk membangun kampung halamannya. Asal jangan bangun perjudian dan tempat maksiat aja deh…, bisa2 digeruduk para kiai kampung.

5. Aspek ekonomi. menggeliatkan kembali roda ekonomi di kampung halaman. Pulang kampung beli sapi, pupuk, pestisida, dan alat bajak modern. Asal jangan yang ditanam padi jenis troy aja…, apalagi sampai nanam ganja, bisa-bisa berurusan sama lembaganya Pak Sutanto.

6. Aspek asmara. Mendistribusikan asmara ke dalam beberapa wilayah operasi (seperti telkom aja..). kalau yang di desa sebuah jalinan asmara berlandaskan hawa nafsu, maka gebetan yang di kota berlandaskan hawa panas….(sssssttt…bisa kena UU. Pornografi nih gw..)

Demikian aspek2 penting yang bisa Saya cermati. Jangan terlalu serius bacanya. soalnya tulisan Saya yang sebelumnya katanya terlalu serius… Mudahan2an suatu saat Saya juga punya kampung halaman (bilang aja husin ini iri dan dengki karena gak punya kampung…). Selamat jalan buat rekan2 yang mudik semoga pergi dan pulang dengan selamat. Amin…..

Rindu kedamaian

September 18th, 2008 by husin-independent

Sesuatu yang mudah dilapazkan, tanpa mengenal batasan waktu, jarak, tempat, dan tanpa memandang aspek2 material ; uang, harta, jabatan dan bahkan wanita. kedamaian bermuara pada “never ending happiness” sesuatu yang tak bisa dirangkai dalam jutaan kata dan kalimat tetapi abadi dalam sanubari, mengalirkan darah kesejukan, menebarkan dunia
kebajikan, dan menepikan sifat2 kebinatangan.

Ada banyak “barrier” untuk mencapai ke sana. Sebuah keniscayaan yang hakiki laksana bayi yang baru belajar berjalan, para murid saolin yang mempertinggi ilmu kanuragannya, atau seorang bocah yang belajar bersepeda. Jalan kedamaian laksana samudera yang harus diseberangi, gunung yang harus didaki, jalanan berliku penuh dengan onak dan duri.., sebuah pencapaian akan sesuatu yang abadi yang tak terendus oleh indera telanjang dimana kekeruhan melandasi hati…, inilah jiwa2 yang tenang yang tersenyum pada siang dan malam, pada badai dan kesejukan, pada getir dan manisnya kenyataan.

Sementara jalan kekeruhan begitu merangsang selera laksana sebongkah daging yang terendus kawanan anjing lapar, seperti panorama yang menyedapkan pandangan mata, sebuah fatamorgana surga dunia yang memuaskan hasrat2 kebinatangan, menumpuk pundi2 keresahan dan jalan pintas yang menimbulkan kepedihan kekal. Potret sebuah jiwa malang yang meratapi masa lalu yang dahaga akan kebajikan, sebuah bencana besar menunggu di pintu ratapan.

Dimana nurani ketika nafsu berkehendak. noda hitam mana lagi yang yang akan ditorehkan ketika gumpulannya begitu pekat menutupi kalbu. kemana akan lari ketika setiap langkah menjadi saksi, dan setiap hembusan nafas dihakimi.

Menanti Bus yang Datang…..

September 9th, 2008 by husin-independent

Saya terinspirasi dengan tulisan Rizkysutji dalam “Bis..,apa lg yang kamu tunggu..?”.(rizkysutji.blogdetik.com). Tak cukup bagi Saya untuk sekedar meninggalkan comment, karena ada beberapa point yang akan Saya tanggapi. Dalam tulisannya Rizki membuat metafora penunggu bus dengan seseorang yang menunggu pasangan yang tepat dalam hidupnya. Beberapa bus yang ditunggu tak juga “memuaskan” sang penunggunya karena karakteristik dasar manusia sebagai mahluk yang selalu mendampakan kesempurnaan, tak puas dengan kondisi sekarang, dan selalu tergesa-gesa dalam hidupnya.

Ada beberapa point yang yang bisa Saya sampaikan disini :
1. Menunggu bus harus di tempat yang tepat, jangan disembarang tempat, karena kalau kita menunggu disembarang tempat bisa dipastikan bus yang datang adalah bus ugal2an, kejar setoran, dan gak tahu aturan. the moral: lingkungan yang kita pijak akan membentuk personalisasi bus yang akan datang….”the right man on the right places..”

2. Tentukan trayek yang harus dituju. Ini penting agar kita tidak tersesat di dunia dan akhirat. it’s mean komitmen, nilai2 prinsipil, visi, misi harus diidentifikasi pada setiap bus yang datang. the moral……… “the kind person for the kind one…”

3. Jangan tertipu pada body mulus bus semata…ini yang sering kali orang terjebak…bus mulus tapi mogok dijalan..karena mesinnya gak pernah diservice.., atau onderdilnya aus…, the moral : “membangun jiwa lebih utama dari membangun raga….”

4. Kalau bus yang ditunggu belum juga cocok.., ya naik ojek aja deh……

special thanks to Mbak Arien Andarini dan irfan kurniawan….pelanggan setia tulisan2 saya…

cinta lalu dekat, atau dekat lalu cinta

August 11th, 2008 by husin-independent

Tulisan Annissa Aminda (rekan di dunia maya antah berantah) menggelitik Saya. Persis dengan judul yang Saya buat diatas. Sering menjadi perdebatan “Apa karena cinta orang saling mendekat Atau karena sering berdekatan akan tumbuh rasa cinta”. Menurut Saya keduanya sah2 saja. Pandangan pertama mewakili kelompok yang menganggap cinta sebagai magnet penarik yang harus diupayakan dan diperjuangkan dengan cara sungguh-sungguh dengan mengerahkan segala daya dan kekuatan, kalau perlu dengan bantuan dukun, dedemit, tuyul dan sejenisnya. prinsip utamanya cinta adalah segalanya, dan cinta membuat orang jadi buta, tulii, bisu bahkan stress. Dalam kutipan referensinya Annisa mengatakan bahwa klo cowok tidak telepon berarti dia tidak menyukai Anda. Mungkin juga cowok gak telpon karena kehabisan pulsa karena uangnya buat bayar kos, atau sibuk dengan pekerjaannya di kantor, atau cowoknya ragu karena ceweknya terlalu jual mahal, atau ceweknya terlalu memiliki standarisasi mutu yang tinggi sehingga cowoknya gak percaya diri. Jadi kesimpulan annisa akan hal tersebut menjadi sangat prematur. Kemudian Annisa menulis kalau cowok tidak menyentuh Anda tandanya gak cinta. Itu mah bukan cinta tapi nafsu. klo ceweknya kenapa2, siapa yang tanggung jawab???

Pandangan kedua mewakili kelompok humanisme sosial yang berangkat dari sebuah kebersamaan, tolong menolong, kerjasama yang akan menumbuhkan rasa cinta yang demikian dalam. prinsipnya semakin hari Anda semakin terlihat indah di matanya. Tanpa Anda dunia menjadi mati rasa. Anda begitu berarti dihadapannya, karena Anda menampilkan perilaku yang indah, ramah, dan bersahaja. Anda dapat menjadi solusi dari berbagai masalahnya termasuk ketika dirinya kehabisan ongkos untuk berangkat ke kantor.

Pandangan ketiga, sebagai pandangan alternatif. Sebuah pelajaran yang Saya peroleh dalam perjalanan pulang dari Bengkulu ke Jakarta. Seorang Nenek berusia hampir 70-an tahun yang telah kenyang akan pengalaman hidup mengajari Saya bahwa cinta itu hanya ada setelah malam pertama pernikahan. Sebuah pandangan yang mungkin hanya dimengerti oleh orang2 yang percaya akan ada kehidupan lain setelah dunia ini berakhir. prinsipnya cinta itu sebagai sesuatu yang bersifat “suci” sehingga harus langsung dimplementasikan dalam ikatan pernikahan. Pandangan nenek ini seakan meruntuhkan paradigma liberalistik dan hedonisme yang mungkin merasuki jiwa kita.

Bercermin pada Ryan

August 6th, 2008 by husin-independent

Seketika pemuda gay asal jombang ini menjadi sedemekian terkenal seperti launching album “appetite for desctruction” dari Guns N Roses. Sosok Ryan telah mengubah topik gosip ibu-ibu rumah tangga tentang kejelekan para tetangganya. Fenomena Ryan Menghentikan sejenak aktivitas para politikus yang katanya ingin mensejahterakan rakyat, Media masa mejadikannya sebagai headline bahkan ada yang menyiarkannya secara live seperti final piala dunia. Ryan menjadi pembicaraan umum di segala penjuru langit Indonesia di halte, stasiun, bandara, bis2 yang sesak penumpang, kereta api yang banyak pencopetnya, bahkan mungkin di warung remang-remang.

Ryan dianggap sebagai pembunuh berdarah dingin tanpa perlu dimasukkan ke dalam chiller atau kulkas besar. Kalau Ryan membunuh 11 orang korbannya, mungkin kita telah membunuh lebih dari jumlah itu. kesombongan kita yang telah menjelekkan orang lain, menhancurkan nama baiknya,menginjak-injak yang lemah dengan licik, bersikap acuh terhadap orang yang membutuhkan, membiarkan orang miskin meregang kelaparan padahal kita diberikan rezeki untuk membantu. Bisa jadi diri kita menjadi lebih buas dibanding Ryan.

menggugat pendidikan sebagai institusi

July 31st, 2008 by husin-independent

Tulisan Ibu Annisa Aminda dalam blognya membangkitkan adrenalin Saya untuk menulis kembali, mengembangkan ide-ide progresif. Dalam tulisannya kemarin Ibu Annisa merisaukan masalah keponakannya yang bergabung dengan “play group”. Saya justru merisaukan penyempitan makna pendidikan dalam konteks ruang sebuah institusi yang melumatkan makna pendidikan sebagai sebuah substansi. Ruang bebas dapat berfungsi sebagai institusi pendidikan yang hakikii bila dapat menggungah atau menanamkan benih2 nilai luhur dan kebajikan, serta keagungan sang pencipta. Ketika melintasi sebuah lampu merah anak2 jalanan yang kepanasan mendidik kita untuk memiliki jiwa sosial. Ketika duduk di tepian pantai, fenomena alam menggugah kesadaran kita akan kebesaran sang pencipta. Seorang ibu yang berbakti kepada suaminya dan ramah kepada lingkungannya akan melahirkan personalisasi kebajikan dalam diri anak-anaknya.

Menempatkan pendidikan hanya dalam konteks ruang institutional hanya menghasilkan tujuan-tujuan yang bersifat pragmatis. Hal ini juga dapat menjelaskan mengapa orang-orang yang memiliki tingkat intelektual yang tinggi tanpa dibarengi dengan penanaman nilai-nilai spiritual hanya melahirkan manusia bermental durjana yang tak segan melakukan tindakan-tindakan penipuan, pembunuhan, dan perkosaan hak2 orang lain.

Semua bermula dari pikiran

July 14th, 2008 by husin-independent

Pikiran, satu kata yang memobilisasi semua tindakan, menganalisa, mempersepsi, memutuskan, melangkah, berdiam diri, agresive, defensive, mengevaluasi dan sebagainya. Ketika Anda membaca tulisan ini, pikiran Anda sedang bekerja untuk memutuskan apakah akan meneruskan membaca sampai tuntas atau mengakhirinya sampai disini. Kadang pikiran kita terlalu kejam untuk menghakimi, membunuh, menguliti, dan memperkosa karakter sesorang berdasarkan informasi yang tidak lengkap dan belum tentu kebenarannya. Kadang tampilan luar mengaburkan esensi dari objek yang kita identifikasi, seperti bungkus yang menutupi kandungan isi.

Pikiran dapat membuat kita menjadi resah, gelisah, sedih, susah dan sebaliknya. Pikiran mempengaruhi perasaan, sikap, dan tingkah laku. Kenapa kita selalu memikirkan sesuatu yang membuat kita susah dan gelisah? Saya seharusnya tak terlalu peduli dengan apapun penilaian orang terhadap Saya karena hal itu akan membelenggu Saya kedalam tindakan yang bersifat lipstik semata. Saya juga mestinya tidak kecewa ketika air susu yang Saya berikan dibalas dengan air tuba, karena Saya yakin akan ada air jernih lainnya yang menanti Saya di depan sana. Saya juga tak harus sedih ketika beberapa teman mengecewakan Saya, karena akan banyak teman2 lain yang bisa membahagiakan Saya.

Pikiran jernih membebaskan diri dari rantai kesusahan dan kesengsaraan, membukakan mata hati akan cinta kasih dan tolong menolong antar manusia. Apapun benih yang kita tanam, itulah yang akan kita panen suatu hari nanti.

Betapa Sulitnya Memilih

July 13th, 2008 by husin-independent

Keanekaragaman pilihan yang tersedia tak pernah memuaskan dahaga kalangan perfeksionis. Dengan standarisasi yang tinggi akan selalu saja ada cacat atau reject yang tak bisa ditoleransi. Tak ada pilhan terbaik, yang ada hanyalah pilihan yang paling sedikit cacatnya diantara sekumpulan yang terburuk. Atau lebih ekstrem lagi muncullah fonemena golput….dalam politik berarti tak memilih apa2 dalam pemilu.., dalam percintaan berarti sendiri selamanya. Ada juga golput terbatas seperti lesbian dan homo.

Apa yang salah dengan setumpuk pilihan yang tersedia..? Pengalaman masa lalu telah mematikan hati, ketidak percayaan dengan partai politik yang ingkar janji menjadikan sekelompok orang golput. Kepedihan dalam percintaan membuat sejumlah orang enggan menjalin hubungan baru lagi. atau mencari alternatif hubungan lain dengan sesama jenis misalnya. Alasan lainnya adalah sekelompok orang kadangkala memimpikan sebuah pencapaian pilihan sempurna yang diluar jangkauannya. Menganggap pilihan yang tesedia sebagai sesuatu yang inferior dan bahkan memuakkan…, padahal pilihan sempurna yang diinginkan belum pasti datang kepadanya.

Dunia mungkin tak kan pernah memuaskan kalangan perfeksionis, seperti air laut yang tak pernah memuaskan dahaga yang meminumnya. Disaat waktu mulai menenggelamkan, disaat itulah kesadaran akan tumbuh dimana sang pencipta telah memberikan pilihan terbaik akan semua hal dalam hidup kita.

politik, uang, dan wanita

July 10th, 2008 by husin-independent

Mencermati kehidupan, rekam jejak, aktivititas kalangan celebrities kadang mengasyikan, kadang juga menjemukan. Semua public figure dari kalangan artist, seniman, pejabat, tokoh politik tak henti2 nya menjadi sorotan media massa.

Kristina menggugat cerai suaminya Al Amin Nasution yang notabene anggota DPR, mungkin lebih karena adanya bonus wanita dalam kasus penyuapan Bupati Azirwan dan bukan karena aktivitas politiknya. Ada juga Yenni Wahid yang berebut nomor undian dengan Muhaimin pada saat pengundiaan nomor urut peserta pemilu. Wah..ini mah ranah politik. dan politik mungkin takkan pernah dewasa karena langsung menjadi tua dan uzur..setelah itu mati tetapi bangkit lagi menjadi bayi yang siap memangsa ibu kandungnya. Tapi negara kita kan negara hukum..? hukum juga produk politik kalangan pragmatisme seperti dalam kasus UU. trasehold pemilu yang kemudian dibatalkan MK. wah susah juga ya….dimana mesti mengurainya…?

Uang…, paling umum disebut sebagai indikator paling sahih dalam semua aktivitas manusia. Sebuah magnet yang luar biasa. Kekuasaan,jabatan, asset, muaranya pasti uang. Seorang calon mertua mengindentifikasi kepada calon menantunya tentang pundi2 yang telah dimilikinya. Seorang wanita mengidentifikasi kandidat pasangannnya berdasarkan tolak ukur yang sama dan sebaliknya.. Ah..kenapa sejak kecil kita dididik untuk mengidolakan uang beserta turunannya. Kenapa orang yang paling banyak uanglah yang paling dihormati dan kenapa orang yang paling banyak uanglah yang memegang kekusaan. Kenapa uang tak bisa disubsitusi dengan daun pisang misalnya.

Lalu apa hubungannya dengan judul diatas..? ya itu tadi kristina kan wanita, Al-Amin anggota DPR yang pastinya orang politik dan uang yang menjebloskannya ke penjara. Santai aja dong! ini kan blog fs bukan khusus untuk analyst politik……!!!!